mb ipb blogs Blog.mb.ipb.ac.id

July 20, 2010

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia Dan Upaya Peningkatannya

Filed under: Artikel — ariefdaryanto @ 5:42 am

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan kita. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts. When it is well conducted, all other arts prosper. When it is neglected, all other arts decline”. Pertanian adalah ibu dari segala budaya. Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya-budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor ini diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM. Ia mengatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”, Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.

Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain : (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in other sectors); serta (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan.

Pertanian juga dipandang sebagai suatu sektor yang memiliki kemampuan khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas (Daryanto, 2009). Semakin besarnya perhatian terhadap melebarnya perbedaan pendapatan memberikan stimulan yang lebih besar untuk lebih baik memanfaatkan kekuatan pertanian bagi pembangunan. Terlebih sekitar 45 persen tenaga kerja bergantung pada sektor pertanian primer maka tidak heran sektor pertanian menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Pertanian sudah lama disadari sebagai instrumen untuk mengurangi kemiskinan. Pertumbuhan sektor pertanian memiliki kemampuan khusus untuk mengurangi kemiskinan. Estimasi lintas negara menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang dipicu oleh pertanian paling tidak dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan daripada pertumbuhan yang disebabkan oleh sektor di luar pertanian. Kontribusi besar yang dimiliki sektor pertanian tersebut memberikan sinyal bahwa pentingnya membangun pertanian yang berkelanjutan secara konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat.

Artikel selengkapnya:  Dalam format pdf
Sumber : http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/MU_Arief.pdf

Indonesia’s Crisis and the Agricultural Sector: the Relevance of Agricultural Demand-Led Industrialisation

Filed under: Artikel — ariefdaryanto @ 5:22 am

Abstract

Following a remarkable period of sustained economic growth and development over the past three decades, Indonesia is experiencing an unprecedented economic and social crisis. The effects of the economic crisis have seriously undermined social welfare gains made by Indonesia over the past three decades. Indonesia has commenced a comprehensive program of economic and social reform aimed at restructuring the economy. This paper provides an overview of the social impact of economic crisis and how the economic crisis has impacted on the agricultural sector. Particular emphasis is placed on the relevance of agricultural demand-led industrialisation (ADLI) to address the economic crisis in Indonesia.  The ADLI strategy argues that agriculture can be developed as an engine for economic recovery.
Artikel selengkapnya : UNEAC_asia_paper_no_2_1999_arief Atau http://www.une.edu.au/asiacentre/PDF/Arief.pdf

June 26, 2010

Revitalisasi Industri Susu melalui Revolusi Putih

Filed under: Artikel,Trobos — admin @ 10:34 am

Tema peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) (25 Januari) pada tahun ini adalah “Gizi Mutakhir untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan Anak”. Ini sangat menarik karena kualitas gizi masyarakat merupakan salah satu komponen penting bagi peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Kualitas SDM—sebagaimana digunakan United Nation for Development Program (UNDP) untuk mengukur kualitas sumberdaya manusia (Human Development Index/HDI)—ditentukan oleh tiga komponen, yaitu tingkat pendapatan atau daya beli, tingkat kesehatan dan tingkat pendidikan.

Berdasarkan data statistik HDI,Indonesia menduduki peringkat ke 109 dari 179 negara yang diukur. Peringkat itu lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Brunei (peringkat 27), Singapura (28), Malaysia (63),Thailand (81), China (94) dan Filipina (102). Pencapaian Indonesia pada 2008 hanya lebih baik dibandingkan dengan Vietnam yang menduduki peringkat 114.

Artikel lengkapnya : Februari-2009-(hal.-60-61)
Sumber : Majalah Trobos

Tantangan dan Peluang Peternakan di Tengah Krisis Finansial Global

Filed under: Artikel,Trobos — ariefdaryanto @ 9:35 am

Krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 mengantarkan Indonesia membuka lembaran ekonomi yang penuh dengan potret buram pada tahun 2009. Salah satu potret buram tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pada tahun 2009, perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 4-5% saja. Padahal sebelumnya, pada 2008 bisa tumbuh di atas 6% per tahun. Sebagai sektor penghasil pangan strategis, peran dan prospek peternakan ke depan akan tetap tumbuh meskipun dengan laju pertumbuhan yang melambat. Masalah besar dalam perekonomian makro terkait dengan krisis pangan, energi dan keuangan global (global food, feed, fuel and financial crisis) atau yang sering disebut 4F. Ke depan yang perlu diantisipasi adalah adanya (a) laju inflasi meningkat signifikan, (b) daya beli melemah akibat tingginya inflasi, (c) neraca keuangan pemerintah tertekan akibat semakin besarnya subsidi pada harga jual komoditas di pasar  domestik, dan (d) pasar keuangan tertekan sehubungan dengan prospek ekonomi yang menurun dan resiko investasi yang meningkat.

Artikel lengkap : Januari-2009-(hal.-62-63)
Sumber: Majalah Trobos

Powered by WordPress