mb ipb blogs

September 28, 2011

BOOKS: Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran

Filed under: SUMARWAN'S BOOKS — admin @ 10:51 am

Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran, oleh Ujang Sumarwan. 2011.  Jakarta: Penerbit PT Ghalia Indonesia

Daftar isi Buku

Bab 1. Pendahuluan 1

Bab 2. Motivasi Dan Kebutuhan 23

Bab 3. Kepribadian 37

Bab 4. Konsep Diri Dan Pola Konsumsi 61

Bab 5. Pengolahan Informasi Dan Persepsi Konsumen 95

Bab 6. Proses Belajar Konsumen 117

Bab 7. Pengetahuan Konsumen 147

Bab 8. Sikap Konsumen 165

Bab 9. Pengaruh Agama Terhadap Perilaku Konsumen 197

Bab 10. Budaya 227

Bab 11. Karakteristik Demografi, Sosial Dan Ekonomi Konsumen 251

Bab 12. Keluarga Dan Rumah Tangga 277

Bab 13. Kelompok Acuan 305

Bab 14. Lingkungan Dan Situasi Konsumen 323

Bab 15. Pengaruh Teknologi Terhadap Perilaku Konsumen 341

Bab 16. Proses Pengambilan Keputusan Konsumen: Pengenalan Kebutuhan, Pencarian Informasi, Dan Evaluasi Alternatif 357

Bab 17. Proses Keputusan Konsumen: Pembelian, Konsumsi Dan Kepuasan Konsumen 377

Bab 18. Tanggung Jawab Sosial Terhadap Konsumen 401

Bab 19. Iklan Yang Menyesatkan Dan Mengelabui Konsumen 423

August 24, 2011

On Comparisson between Ordinary Linear Regression and Geographically Weighted Regression: With Application to Indonesian Poverty Data

Asep Saefuddin
Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Bogor Agricultural University. Indonesia
E-mail: asaefuddin@gmail.com

Nur Andi Setiabudi
iCrescent. Jl. Pandawa Raya No. 6, Bumi Indraprasta
Bogor, Indonesia
E-mail: nurandi.mail@gmail.com

Noer Azam Achsani
Department of Economics and Graduate School of Management and Business
Bogor Agricultural University, Indonesia
E-mail: achsani@yahoo.com or achsani@mb.ipb.ac.id

 

Abstract

Ordinary linear regression (OLR) is one of popular techniques in analyzing relationship between response variable and its predictors. It is an analysis that produces global models applied to all observations assuming no correlation among responses. In social studies, such as poverty analysis, response variable might be spatial nonstationarity, i.e. depends on the region or neighborhood. Therefore, of course, OLR model will not comply the assumption of independence. In dealing with the problem, an OLR model has to be calibrated by accommodating spatial variation. Alternatively, geographically weighted regression (GWR) involves geographical weights in estimating the parameters. GWR yields models in each region uniquely, i.e. local model, by setting the weights as a function of distance. The weights are greater as the distance is closer, and then continuously decrease to zero as the distance is farther.

This paper shows an application of GWR in poverty analysis in Java, Indonesia. Performance of GWR and OLR model in describing poverty is compared. The results show that GWR has better performance than OLR does based on residuals, R2, AIC statistics and some formal tests.

Keywords: Global model, geographically weighted regression, local model, spatial analysis

Artikel lengkapnya dapat dibaca dalam bentuk pdf file mb.ipb.ac.id_EJSR_57_2_10

On Comparisson between Ordinary Linear Regression and Geographically Weighted Regression: With Application to Indonesian Poverty Data

Asep Saefuddin
Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Bogor Agricultural University. Indonesia
E-mail: asaefuddin@gmail.com

Nur Andi Setiabudi
iCrescent. Jl. Pandawa Raya No. 6, Bumi Indraprasta
Bogor, Indonesia
E-mail: nurandi.mail@gmail.com

Noer Azam Achsani
Department of Economics and Graduate School of Management and Business
Bogor Agricultural University, Indonesia
E-mail: achsani@yahoo.com or achsani@mb.ipb.ac.id

 

Abstract

Ordinary linear regression (OLR) is one of popular techniques in analyzing relationship between response variable and its predictors. It is an analysis that produces global models applied to all observations assuming no correlation among responses. In social studies, such as poverty analysis, response variable might be spatial nonstationarity, i.e. depends on the region or neighborhood. Therefore, of course, OLR model will not comply the assumption of independence. In dealing with the problem, an OLR model has to be calibrated by accommodating spatial variation. Alternatively, geographically weighted regression (GWR) involves geographical weights in estimating the parameters. GWR yields models in each region uniquely, i.e. local model, by setting the weights as a function of distance. The weights are greater as the distance is closer, and then continuously decrease to zero as the distance is farther.

This paper shows an application of GWR in poverty analysis in Java, Indonesia. Performance of GWR and OLR model in describing poverty is compared. The results show that GWR has better performance than OLR does based on residuals, R2, AIC statistics and some formal tests.

Keywords: Global model, geographically weighted regression, local model, spatial analysis

Artikel lengkapnya dapat dibaca dalam bentuk pdf file mb.ipb.ac.id_EJSR_57_2_10

On Comparisson between Ordinary Linear Regression and Geographically Weighted Regression: With Application to Indonesian Poverty Data

Asep Saefuddin
Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Bogor Agricultural University. Indonesia
E-mail: asaefuddin@gmail.com

Nur Andi Setiabudi
iCrescent. Jl. Pandawa Raya No. 6, Bumi Indraprasta
Bogor, Indonesia
E-mail: nurandi.mail@gmail.com

Noer Azam Achsani
Department of Economics and Graduate School of Management and Business
Bogor Agricultural University, Indonesia
E-mail: achsani@yahoo.com or achsani@mb.ipb.ac.id

 

Abstract

Ordinary linear regression (OLR) is one of popular techniques in analyzing relationship between response variable and its predictors. It is an analysis that produces global models applied to all observations assuming no correlation among responses. In social studies, such as poverty analysis, response variable might be spatial nonstationarity, i.e. depends on the region or neighborhood. Therefore, of course, OLR model will not comply the assumption of independence. In dealing with the problem, an OLR model has to be calibrated by accommodating spatial variation. Alternatively, geographically weighted regression (GWR) involves geographical weights in estimating the parameters. GWR yields models in each region uniquely, i.e. local model, by setting the weights as a function of distance. The weights are greater as the distance is closer, and then continuously decrease to zero as the distance is farther.

This paper shows an application of GWR in poverty analysis in Java, Indonesia. Performance of GWR and OLR model in describing poverty is compared. The results show that GWR has better performance than OLR does based on residuals, R2, AIC statistics and some formal tests.

Keywords: Global model, geographically weighted regression, local model, spatial analysis

Artikel lengkapnya dapat dibaca dalam bentuk pdf file mb.ipb.ac.id_EJSR_57_2_10

July 31, 2011

Decision tree

Filed under: Decision Analysis — Tags: — Siswanto A @ 10:29 pm

Decision tree atau Pohon Keputusan adalahs alah satu alat untuk membantu manusia dalam mengurai caa berpikirnya dalam menghafapi suatu masalah dan harsu membuat keputusan.

Decision Analysis

Filed under: Decision Analysis — Tags: — Siswanto A @ 10:15 pm

Manusia sejak lhir mulai bbelajar untuk membuat putusan. Semakin berkembang dan bertambah usia, seiring perkembangan tanggungjawabnya, keputusankeputusan yang arus dia buat semakin mempunyai konsekuensi tanggungjawab dan dampak.

Keputusan dibuat manusia ketika manusia hendak menyelesaikan masalah yangs edang dihadapi.

July 28, 2011

Push System to Pull System

Filed under: Japanese Management Practices — Tags: — Siswanto A @ 3:35 am
Dalam disiplin ilmu Manajemen Operasi,  dikenal dua macam proses yaitu Job Shop untuk memenuhi permintaan pemesan dan Flow Shop untuk memenuhi permintaan pasar. Maka, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dengan lingkungan budayanya, muncul paradigma Push System yaitu propoduksi berdasar rencana bukan kebutuhan yang sudah ada.   
Proses1 
pull4
Kunci pengendalian Push System sepenuhnya berada ditangan supervisor dan inspector. untuk menjamin bahwa persediaan dan produk yang dihasilkan seperti yang direncanakan dan dikehendaki. Pada setiap titik proses peran Inspector dan Supervisor tersebut sangat menentukan.
pull6
Paradigma tersebut berubah sejak pratek manajemen di Gemba berorientasi pada elimnasi Muda atau Waste, yaitu segala sesuatu yang tidak mempunyai nilai tambah. Paradigma baru ini lebih memperhatikan Non Added Value yang harus dieliminasi untuk meningkatkan produktivitas sistem operasi. The new of thingking, the new way of looking.
Inspector menurut praktek di Gemba dipandang sebagai Muda atau Waste karena tidak memiliki Nilai Tambah atau Non Added Value. Inilah awal berangkat perubahan paradigma itu. Maka, Pemasok atau Supplier harus mengirim barang sesuai dengan permintaan dimana kepercayaan adalah dasarnya. Inspector dilihat sebagai Muda yang harus dieliminasi. Inilah awal perubahan yang memicu berbagai perubahan di Manajemen Operasi seperti Persediaan secukupnya, Cacad Nol,Tata Ruang, Inovasi Teknologi, dan Perilaku pekerja yang berdampak dipenurunan biaya dan bermuara di kenaikan laba serta perbaikan Return On Investment
pull7 Gerakan Eliminasi Muda berdampak pada penghapusan fungsi Inspector yang dipandang sebagai Muda di Gudang bahan baku. dan Supplier harus memasok sesuai dengan kebutuhan operasi. Praktek di Gemba ini unik dan sangat kental dengan pengaruh budaya di Jepang dimana kepercayaan dan harga diri dijunjung tinggi
pull8 Selanjutnya, Inspector dan Supervisordiproses juga dipandang sebagai Muda sehingga harus dihilangkan. Dikenal Jidoka atau pemberian wewenang yang lebih besar kepada mereka yang terlibat dalam proses. Menurut Allan, CEO Xerox, mereka yang paling dekat masalah adalah yang paling tahu masalah. Maka, setiap orang bertanggung jawab terhadap masalah yang muncul ditempat kerja dan lingkungannya, JIDOKA
pull9 Setiap orang kemudian bertanggung jawab terhadap kualitas pekerjaan yangdihasilkan. Sekali lagi, dasarnya adalah kepercayaan dan nuansa budaya sangat kental dimana sangsi sosial lebih dominan dibanding sangsi administratif. Bekerja tidak baik adalah cemar diri, maka bekerja baik adalalah martabat. Jadi Supervisor dan Inspector tidak berkeliaran di Gemba karena itu akan dipandang sebagai Muda.
pull11 Ketika proses telah baik demikian pula tahap sebelumnya, maka output proses dijamin baik sehingga Inspector produk jadi atau hasil akhir otomatis menjadi Muda. Reworkatau Scrap juga dilihat sebagai muda maka harus dihilangkan. Pertanyaannya sekarang adalah, Quality Cotrol System berada dimana?QCS berada di setiap proses yang melibatkan manusia. Mungkin istilah Total QualityManagement atau Total Quality ControlSystem menjadi lebih jelas disini.
pull10 Ketika seluruh tahapan proses sejak input hingga ke output benar dan setiap proses ditujukan untuk  memenuhi kebutuhan proses berikutnya dimana ditahap akhir adalah konsumen, maka definisi kebutuhan dan spesifikasi output sebenarnya dibuat oleh konsumen. Inilah sebenarnya esensi dari Pull System yang merupakan anti tesa dari Push System.
pull3 Tiga kalimat bertuah yang terpampang dalam papan besar tergantung diberbagai tempat di Gemba Honda. Artinya, tiga kalimat bertuah itu adalah sistem nilai atau values system yang harus dimiliki oleh setiap orang yang terlibat didalam proses. Ketika sistem nilai tersebut menjadi dominan maka budaya organisasi untuk bekerja baik guna menghasilkan hasil kerja yang baik menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan tanpa beban.
pull12 Ketika 3 Don’t itu telah menjadi sebuah sistem nilai maka dari Pemasok hingga kebagian akhir proses sebelum produk sampai ke tangan konsumen,  setiap orang pada setiap proses dengan sub-sadarnya tidak menerima produk atau pekerjaan cacad dari bagian sebelumnya, tidak membuat produk cacad, dan tidak mengirim produk cacad ke bagian berikutnya.
The new way of looking, the new way of thinking akhirnya menjadi sebuah pemicu perubahan yang berbeda sama sekali dari kebiasaan dan kebenaran dunia operasi sebelumnya. Akhirnya, mandat untuk eliminasi Muda itu ditandai berdampak pada Cost Reduction, Inventory Reduction, dan Quality Improvement yang memunculkan fenomena Zero Defect dan Few Inventory.

March 2, 2011

Perilaku Konsumen (Consumer Behavior)

Filed under: SUMARWAN'S BOOKS — ujangsumarwan @ 5:44 pm

Buku teks Perilaku Konsumen ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan para konsumen pembaca, yaitu mahasiswa, praktisi bisnis, para eksekutif perusahaan, para pengambil keputusan di lembaga swadaya masyarakat (LSM), maupun di berbagai lembaga pemerintah. Buku ini juga diperuntukkan bagi dosen atau staf pengajar yang mengasuh mata kuliah Perilaku Konsumen, Manajemen Pemasaran, Riset Pasar, Risef Konsumen, Pemasaran Sosial, Manajemen Promosi dan Periklanan, maupun Komunikasi Bisnis dan Pemasaran. Buku ini bisa dipakai sebagai referensi untuk mahasiswa S1 maupun S2.

Buku ini membahas proses pengambilan keputusan konsurnen dalam memilih, membeli, menggunakan, dan mengevaluasi barang atau jasa. Proses pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh faktor psikologis konsumen, seperti motivasi, kepribadian, persepsi, sikap, serta proses komunikasi konsumen. Faktor lainnya yang berpengaruh adalah lingkungan sosial dan budaya dari konsumen. Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut dapat bermanfaat bagi para pemasar atau produsen serta siapa pun yang berkepentingan dengan konsumen untuk mempengaruhi keputusan konsumen dan memperkirakan perilaku konsumen.

Setelah membaca buku ini, pembaca diharapkan dapat memahami faktor-faktor psikologis, sosial budaya konsumen, dan pengaruhnya terhadap proses pengambilan keputusan konsumen tersebut. Pembaca juga dapat menguasai bagaimana teori-teori perilaku konsumen dimanfaatkan oleh para pemasar dan produsen untuk meningkatkan kinerja bisnisnya, dapat menerapkan teori-teori perilaku konsumen dalam menyusun strategi pemasaran, dan dapat mengidentifikasi serta menganalisis perilaku konsumen dan perubahan-perubahan perilaku tersebut sehingga dapat mengembangkan produk dan jasa yang dibutuhkan konsumen.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dengan menjelaskan berbagai konsep perilaku konsumen serta penerapannya dalam bidang pemasaran. Buku ini juga memberikan banyak contoh dan ilustrasi dengan kasus-kasus komunikasi pemasaran perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Buku ini mengungkapkan konsep perilaku konsumen dengan nuansa bisnis di Indonesia agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. Buku ini banyak menampilkan iklan cetak atau bahan promosi cetak dari berbagai produk dan merek yang beredar di Indonesia. Iklan cetak yang dikutip tersebut telah disebarluaskan ke masyarakat melalui berbagai media cetak dan berbagai media ruang oleh perusahaan yang bersangkutan. Tujuan utama dari pengutipan bahan iklan cetak tersebut adalah untuk memperkaya penjelasan konsep atau teori, sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman aplikasi perilaku konsumen dalam pemasaran. Pengutipan iklan cetak tersebut dilakukan dengan menggunakan prosedur etika pengutipan dalam penulisan karya ilmiah. Pengutipan iklan cetak dilakukan dengan cara mencantumkan sumber atau nama media cetak yang menerbitkan/memuat iklan tersebut dan waktu penerbitan. Jika bahan promosi cetak tersebut tidak dimuat di media cetak, namun sudah tersebar di masyarakat, maka pengutipan dilakukan dengan menyebutkan nama sumber kutipan tersebut diperoleh (misalnya kemasan produk, brosur, katalog, atau bahan promosi cetak lainnya). Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa iklan yang dikutip tersebut merupakan hasil karya dari perusahaan yang membuat atau mengeluarkan iklan tersebut. Hak milik dan hak cipta iklan-iklan yang dikutip itu dimiliki oleh perusahaan yang mengeluarkan iklan tersebut. Bahan kutipan tersebut diperlukan untuk memperkaya pembahasan teori dan konsep perilaku konsumen. Sebagian iklan-iklan yang dikutip tanpa disertai nama media cetak yang memuat iklan tersebut. Hal ini dilakukan untuk bahan iklan-iklan yang diperoleh penulis langsung dari perusahaan-perusahaan yang memberikan izin pengutipan iklan itu. Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Philip S. Purnama, MBA dari PT ISM Bogasari Flourmills, yang telah mengizinkan saya menggunakan iklan cetak dan bahan promosi cetak beberapa produk Bogasari. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga disampaikan kepada Bapak Anggoro Eko Cahyo dari Card Center PT Bank BNI, Bapak Muhammad Arief dari PT Danone Indonesia, Bapak Rian Partama dari PT Arnott’s Indonesia, Bapak Edin Saefudin dari PT Syngenta Indonesia, Bapak Johanes Kitono dari PT Charoen Pokphand Indonesia,

Bapak Budiono dari PT Reckitt Benckiser Indonesia, yang telah memberikan bahan promosi cetak maupun elektronik file kepada saya untuk digunakan dalam buku ini.

Buku ini terdiri atas lima bagian. Bagian pertama berisi satu bab, yaitu Bab 1 Pendahuluan, yang menguraikan mengenai pengertian perilaku konsumen, arti konsumen, sejarah disiplin perilaku konsumen, dan siapa yang berkepentingan dengan perilaku konsumen. Bab Pendahuluan diakhiri dengan uraian model pengambilan keputusan yang dijadikan sebagai landasan konseptual dalam buku teks ini. Bagian kedua disebut sebagai Perbedaan Individu Konsumen, yang menguraikan faktor-faktor perbedaan individu yang mempengaruhi keputusan konsumen. Bagian dua terdiri atas enam bab (Bab 2 sampai Bab 7). Bab 2 membahas kebutuhan dan motivasi konsumen. Bab 3 membahas kepribadian konsumen. Bab 4 membahas pengolahan informasi dan persepsi konsumen. Bab 5 membahas proses belajar konsumen. Bab 6 membahas pengetahuan konsumen dan Bab 7 membahas sikap konsumen. Bagian ketiga disebut sebagai Faktor Lingkungan Konsumen, yang menguraikan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi keputusan konsumen. Bagian ketiga terdiri atas lima bab (Bab 8 sampai Bab 12). Bab 8 membahas budaya, Bab 9 membahas karakteristik sosial ekonomi konsumen, Bab 10 membahas mengenai keluarga dan rumah tangga, Bab 11 membahas kelompok acuan, dan Bab 12 membahas situasi konsumen. Bagian keempat disebut sebagai Proses Keputusan Konsumen, yang menguraikan mengenai tahap-tahap proses keputusan konsumen. Bagian keempat terdiri atas dua bab. Bab 13 menguraikan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, dan evaluasi alternatif. Bab 14 membahas mengenai tahap pembelian, pemakaian, dan kepuasan konsumen. Bagian kelima terdiri atas satu bab, yaitu Bab 15, yang menguraikan mengenai tanggung jawab sosial terhadap konsumen.

Download Deskripsi Singkat tentang Buku Perilaku Konsumen (Consumer Behavior) Pdf

Pemasaran Strategik

Filed under: SUMARWAN'S BOOKS — ujangsumarwan @ 5:23 pm

Perspektif Value Based Marketing dan Pengukuran Kinerja

SINOPSIS
Pemasaran strategik menguraikan bagaimana sebuah perusahaan harus memahami konsumen, sehingga dapat menyusun strategi pemasarannya untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan guna meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Pemasaran adalah memahami berbagai kebutuhan para pelanggan dan mengembangkan sebuah proposisi untuk menawarkan nilai yang superior. Melalui penyediaan nilai pelanggan yang lebih tinggi maka manajemen dapat memberikan dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi pula kepada para pemegang saham.

Nilai suatu merek dagang terbentuk dari kepercayaan para pelanggan terhadap merek dagang perusahaan. Kepercayaan ini membentuk relasi antara merek dan pelanggan yang mendorong preferensi, loyalitas merek, dan keinginan untuk mempertimbangkan produk dan jasa baru yang ditawarkan perusahaan di masa depan dengan merek tersebut. Buku ini juga menguraikan bagaimana langkah-langkah untuk membangun ekuitas merek serta menjelaskan beberapa metode untuk mengukur ekuitas merek.

 

BUKU PEMASARAN STRATEGIK PDF File

Sales Efficiency of the Indonesian Retail Bond (ORI) and Its Implications on Marketing Strategy

Filed under: Karya ilmiah — Tags: , , , — achsani @ 2:45 pm

Susy Liestiowaty
Graduate School of Management and Business, Bogor Agricultural University, Indonesia
E-mail: susylies@yahoo.com

Ujang Sumarwan
Department of Family and Consumer Sciences and Graduate School of Management and Business
Bogor Agricultural University, Indonesia
E-mail: sumarwan@mma.ipb.ac.id

Noer Azam Achsani
Department of Economics and Graduate School of Management and Business
Bogor Agricultural University, Indonesia
E-mail: achsani@yahoo.com and achsani@mb.ipb.ac.id

Nunung Nuryartono
Department of Economics and Graduate School of Business Management
Bogor Agricultural University, Indonesia

Abstract

This study aims to assess the efficiency of the Indonesian Government Retail Bond known as ORI (Indonesian Retail Bonds) at every branch of BRI (Bank Rakyat Indonesia, an Indonesian commercial bank) in order to obtain a comprehensive study on marketing strategy of ORI that is applicable for the Bank. The method used to analyze the efficiency is SFA (Stochastic Frontier Analysis) method, using number of marketers and marketing costs (marketing promotion cost plus overhead costs) as inputs, while the output is selling fee income of each branch.

The five branches of BRI, namely: Jakarta Pasar Minggu, Jakarta Hayam Wuruk, Kramat Jakarta, Medan Iskandar Muda and Jayapura become the five most efficient branches in conducting sales of ORI001-005. Those branches have average cost per marketers ranges from Rp.533.750 to Rp.1.036.173 while their ORI sales target ranging from Rp.220.000.000 to Rp.7.921.666.667.

Based on the research results, the effective marketing strategy that can be applied to all branches of BRI is to set the sales target of Rp.1.494.000.000 and marketing cost of Rp.1.036.173 (which consists of marketing/promotion cost and marketers’ overhead cost) in order to obtain a profit of Rp.5.754.736 per-marketer.

Keywords: ORI, Efficiency, Stochastic Frontier Analysis, Marketing Strategy

Artikel selengkapnya dalam format pdf : Klik disini
Sumber: http://www.eurojournals.com

Older Posts »

Powered by WordPress